Selasa, 04 Oktober 2011

Saat Teknologi Memberdayai Manusia :o

Mba, mas, semuanya, saya mau sharing nih mengenai film Wall-E, film edukatif yang punya banyak pesan moral yang bisa jadi introspeksi diri kita :)

Apa yang terjadi bila manusia tak lagi bermukim di bumi? Tahun-tahun ketika komputer telah semakin brilliant, dan robot mulai menggantikan banyak kerja-kerja manusia, dan kita telah punya beberapa tempat baru dari semesta yang luas ketimbang sekedar bumi yang terus-menerus merana? Bisa jadi, bumi itu hanya tinggal kenangan. Salah satu planet kecil dengan tanah, dan berjuta kerusakan.Wall-E, film animasi yang diproduksi oleh Pixar Animation Studios dan dirilis oleh Walt Disney Pictures pada tanggal 27 Juni 2008, mencoba mengambil tema cerita futuristik tentang masa kehancuran bumi. Bagaimanakah keadaannya jika segala kegiatan manusia dikawal oleh mesin atau robot? Mungkin itulah yang ingin disampaikan pengarah, Andrew Stanton yang pernah memenangi Oscar melalui filem animasi Wall-E. Film garapan wall disnep ini emang gak diragukan lagi serunya, baik detail gambar, ide cerita sampai pesan yang disampaikan kepada penonton memang layak untuk ditonton untuk semua umur khususnya untuk anak-anak.
Beratus tahun yang akan datang sampah besar berserakan dimana-mana, badai besar selalu datang menghantam, cuaca menjadi sukar diprediksi, gas beracun memenuhi bumi yang menyerap oksigen dan tak membiarkannya lepas untuk manusia. Sebagian besar dari sampah itu adalah buangan dari barang-barang elektronik kita, yang tak terolah, dan menggunung hari demi hari. Dan, peradaban manusia tiba pada level yang mengkhawatirkan. Awal abad ke-22 menandai masa ketika kapitalisme mencapai puncaknya. Perusahaan raksasa Buy And Large (BnL) menjadi penguasa atas perekonomian dan sendi-sendi politik serta pemerintahan. BnL akan menyelesaikan semuanya, dan manusia tinggal menunggu beberapa saat di luar angkasa dengan pesawat besar yang menampung mereka.

Di bumi, robot-robot bergerak kesana-kemari, mencoba membersihkan bumi dari kegagalan manusia memikirkan prinsip daur ulang pada segenap benda-benda. Namun, bumi telah terlalu lama merana. Tiba saatnya bagi bumi untuk mengembalikan semuanya pada titik awal, dan mencoba melakukan mekanisme alamiahnya sendiri. Badai besar datang menggulung, membawa berton-ton gas yang tak cocok untuk hidup manusia, dan kehancuran menyapu peradaban. Tahun 2110 bumi telah semakin tercemar. Tak lagi ada kemungkinan mahkluk hidup dapat punya tempat di sana. Hanya robot-robot yang tetap bekerja hendak menyelesaikan semua masalah manusia.

Wall-E mendapat tugas untuk memadatkan sampah apa saja. Berminggu-minggu, bertahun-tahun, para robot itu bekerja mencoba peruntungan agar bumi kembali dapat dihuni manusia. Namun gagal. Bahkan robot pun seperti tak lagi mampu menyelesaikan masalah manusia atas pengrusakannya di bumi. Satu-persatu robot itu tumbang, dan bercampur menjadi sampah lainnya yang berserakan di sana-sini, 700 tahun kemudian. Tinggal satu robot kecil yang bertahan. Kita tak punya jawaban berarti mengapa Wall-E mampu berpikir dan bertindak laiknya manusia. 

Satu hal yang pasti, film ini hendak menegaskan bahwa saat kecerdasan itu terus bertambah, dan manusia telah mampu mencipta kreasi yang semakin baik, maka bisa jadi suatu saat komputer memang berpeluang menjadi pemikir yang terampil. Ia mampu memperbaiki diri sendiri, menciptakan tindakan-tindakan yang dipilih dari serangkaian kemungkinan, juga menerka apa yang harus diperbuat untuk menghadapi situasi tertentu. Seperti Wall-E yang mungil itu terus berjalan, dan merengkuh pengetahuan baru dari segala amatannya terhadap benda-benda, maka perasaan itu kemungkinan hanya impuls yang digerakkan oleh mekanisme berpikir. 


Di luar angkasa, di atas pesawat super besar eksekutif bernama Axiom, manusia telah semakin membesar. Gemuknya bertambah-tambah. Segala kemudahan tekhnologis yang diciptakan untuk meringankan kerja-kerja manusia, perlahan menggerogotinya bagai penyakit. Tak ada pekerjaan berarti di sana, tak ada olah tubuh, tak ada yang remeh-temeh kecuali makan dan istirahat. Makan dan minuman pun sudah tak alami, terbuat dari bahan kimia. Ketika segala hidup telah menjadi ringan oleh tekhnologi, maka sedikit demi sedikit tubuh menjadi tidak lagi penting. Di dalam mikrogravitasi yang kecil, perlahan manusia kehilangan kemampuan berdiri dan berjalan. Tangan dan kaki melemah, naluri sudah tak punya tempat, dan insting Freudian menjadi asing. 

Film ini sangat edukatif, mengandung pesan moral tentang alam dan juga sindiran sosial. Kecanggihan teknologi memang hebat dan begitu bermanfaat. Tapi bisa menjadi sebuah hal yang berbahaya dan begitu menipu. Hingga manusia bisa menjadi terlalu sibuk bersosialisasi dengan handphone atau alat komunikasi lainnya, dan lupa dengan kondisi sosial di sekitarnya. Bahkan kecanggihan teknologi bisa berakibat buruk kepada kesehatan tubuh.
LET'S SAFE OUR EARTH ! :D

Jangan mau diberdayai oleh karya otak sendiri , teknologi boleh canggih , tapi jangan terlalu bergantung dengan teknologi :)
karena kita manusia , yang diberi akal dan pikiran yang sempurna di antara makhluk-makhluk lain di bumi ini :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar